68. AS SHOMAD (Dzat Yang Maha Dibutuhkan) Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Dibutuhkan. Sedikitpun Dia tidak butuh kepada hamba-hambaNya, akan tetapi hamba-hambaNya-lah yang butuh kepadaNya. Allah Ta’ala tidak butuh keselamatan karena Dia yang mempunyai keselamatan, akan tetapi manusia itu sendiri yang butuh dengan keselamatan. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita merasa bahwa Allah Ta’ala butuh dengan keimanan kita, dengan amal ibadah dan amal sholeh kita. Akan tetapi kitalah yang butuh kepadaNya. Surat Al Israa’ (17) : 15 15. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. Yang butuh keselamatan bukannya Allah Ta’ala, tetapi diri kita sendiri. Yang butuh pengampunan bukannya Allah Ta'ala, tetapi diri kita sendiri. Yang butuh rizki bukannya Allah Ta'ala, tetapi diri kita sendiri. Begitu juga dengan hal-hal yang lain. Semuanya adalah kita yang butuh kepada Allah Ta'ala. Karena Allah Ta'ala adalah Tuhan yang memiliki segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi termasuk diri kita. Apabila semua manusia melakukan ketaqwaan kepadaNya, tidak akan menambah sedikitpun kekuasaanNya. Begitupun juga sebaliknya apabila semua yang ada dilangit dan dibumi bersatu untuk mensekutukanNya dan mendurhakai-Nya, niscaya tidak akan mengurangi sedikitpun kekuasaanNya. Akan tetapi kebanyakan manusia merasa bahwa Allah Ta’ala butuh dengan ibadah-ibadah hamba-hambaNya. Sehingga banyak sekali orang-orang yang melakukan ibadah dengan niat untuk memaksa Allah Ta’ala agar mencukupi segala keinginan hawa nafsunya. Padahal keimanan, ketaqwaan dan amal-amal sholeh adalah untuk kebutuhan dirinya sendiri. Manusia tidak bisa bernafas jika tidak diizinkan dan ditolong oleh Allah Ta’ala, manusia tidak bisa makan jika tidak diberi oleh Allah Ta’ala, manusia tidak bisa melihat jika tidak dititipi mata dan diberikan penglihatan oleh Allah Ta’ala, manusia tidak bisa bergerak jika tidak diizinkan oleh Allah Ta'ala, manusia tidak bisa melakukan ibadah-ibadah jika tidak diberi ilmu dan ditolong oleh Allah Ta’ala. Oleh sebab itu Allah Ta’ala mengajarkan kalimat “Laa Haulaa Wala Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adziim” (tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah yang Maha Agung). Maka dari itu kebergantungan kita kepada Allah Ta’ala harus penuh (100%). Jangan sampai kita merasa mampu dan sombong. Karena apa yang harus kita sombongkan? Padahal kita ini hanyalah sebuah jiwa yang tidak mempunyai apa-apa, lemah, bodoh, faqir yang tercipta dari setets air yang hina. Bahkan untuk memilih antara kefasikan dan ketaqwaan-pun Allah Ta’ala yang mengilhamkan. Hal ini diceritakan bahwa ada selembar kertas yang putih bersih yang sudah terkotori. Allah Ta’ala bertanya kepada kertas, “Wahai kertas! Mengapa engkau kotor? padahal mulanya engkau Aku ciptakan dalam keadaan bersih”. Kertas tersebut menjawab : “Benar Ya Allah. Memang dahulunya Engkau ciptakan aku dalam keadaan putih bersih, akan tetapi ada tinta yang tiba-tiba mengotoriku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa”. Kemudian Allah Ta’ala memanggil tinta dan bertanya kepadanya : “Wahai tinta! Mengapa engkau mengotori kertas yang bersih itu? padahal pada mulanya engkau Aku ciptakan terdiam didalam wadah”. Tinta menjawab : ”Benar ya Allah. Memang Engkau ciptakan aku terdiam didalam wadah. Akan tetapi tiba-tiba ada pena yang masuk dan menghisapku dan aku tidak bisa menghindar darinya”. Kemudian Allah Ta’ala memanggil pena dan bertanya kepadanya : ”Wahai pena! Mengapa engkau masuk kedalam tinta dan menghisapnya? Padahal pada mulanya engkau Aku ciptakan diam ditempatmu”. Pena menjawab : ”Benar Ya Allah. Memang pada awalnya aku Engkau ciptakan dalam keadaan diam. Akan tetapi ada tangan yang bergerak dan mengambilku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Kemudian Allah Ta’ala memanggil tangan dan bertanya kepadanya : ” Wahai tangan! Mengapa engkau bergerak mengambil pena? Padahal awalnya engkau Aku ciptakan dalam keadaan diam”. Tangan menjawab : ”Benar Ya Allah. Memang pada awalnya Engkau menciptakan aku dalam keadaan diam. Akan tetapi jiwalah yang memerintahkan aku untuk bergerak dan aku tidak mampu untuk menolaknya”. Kemudian jiwa dipanggil dan ditanya oleh Allah : “Wahai jiwa! Pada awalnya engkau Aku ciptakan diam, akan tetapi mengapa engkau perintahkan kepada tangan untuk bergerak?”. Kemudian jiwa menjawab : ”Benar Ya Allah. Aku dahulunya tidak mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu, akan tetapi ada kekuatan yang sangat dahsyat yang memaksaku untuk melakukan itu”. Kekuatan tersebut adalah kekuatan fasik dan taqwa dan semuanya itu sangat kuat karena semua telah tertulis di Lauh Mahfudz. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, begitu lemahnya manusia yang tidak memiliki kekuasaan atau kemampuan sedikitpun untuk melakukan sesuatu bahkan untuk memilih sesuatu-pun tidak mampu kecuali atas izin dan pertolongan Allah Ta’ala. Karena tidak bergerak sebesar zarrahpun dilangit dan dibumi kecuali atas izinNya. Pada dasarnya kita ini adalah seorang hamba yang lemah, sehingga setiap saat kita butuh kepada Allah Ta'ala. Karena tidak bergerak sebutir zarrah kecuali atas izinNya. Kita tidak bisa bernafas jika tidak diizinkan oleh Allah Ta'ala. Tidak bisa melihat, mendengar, melangkah, beraktivitas, beribadah dan lain sebagainya tanpa izin Allah Ta'ala. Bahkan tidak bisa beriman, tidak bisa masuk syurga dan lepas dari neraka jika tidak ada izin Allah Ta'ala. Oleh sebab itu tidak ada satupun manusia yang tidak butuh kepada Allah Ta'ala. Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Siapa orang-orang yang akan Dia ampuni? Yaitu orang-orang yang mau memohon ampun kepada-Nya. Hal ini membuktikan bahwa diri kita-lah yang butuh kepada Allah Ta'ala. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita bergantung kepada Allah Ta’ala, dan seberapa banyak kita bergantung atas kemampuan diri sendiri atau bergantung kepada sesuatu selain Allah Ta'ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang selalu bergantung hanya kepada-Mu. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwasannya kepada Allah Ta'ala saja bergantung segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi dan sedikitpun Allah Ta'ala tidak butuh kepada hamba-hambaNya. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia hanya bergantung kepada Allah Ta'ala baik didunia maupun diakhirat. Apapun kebutuhannya didalam hidup ini hanya mengadu dan berharap kepada Allah Ta'ala. Kesulitan apapun yang dia terima tidak pernah bergantung kepada selain Allah Ta'ala. Dan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang bertaqwa kepada Allah Ta'ala adalah : “Amal-amalnya diterima dan dosanya diampuni. Dilepaskan dari neraka dan dimasukkan syurga”. Karena hanya Allah Ta'ala yang dapat menerima amal dan mengampuni dosa serta yang dapat memasukkan syurga dan menghindarkan dari azab neraka. Sehingga dimanapun dia berada selalu mencari keridhoan Allah Ta'ala, karena dia butuh Allah Ta'ala ridho kepadanya. Dia sangat mengharapkan keselamatan diakhirat kelak, sedangkan orang-orang fasik dengan segala daya upaya akan dia lakukan untuk mencari kesenangan dunia. Sehingga kehidupan akhirat tidak dia hiraukan. Kalaupun difikirkan hanya sholat, zakat, puasa, haji dan itu semua dia rasakan sebagai sebuah beban. Karena bagaimana mungkin seseorang akan mengharapkan kehidupan akhirat, jika keinginan duniawinya masih sangat besar?. Umar Bin Khattab r.a berkata : “Andaikata dunia dan akhirat bisa dipegang keduanya, tentulah aku yang paling kuat untuk memegangnya. Akan tetapi hal itu tidak mungkin bisa terjadi, karena dunia dan akhirat ibarat barat dan timur. Jika engkau berlari mendekati timur, niscaya engkau akan menjauhi barat. Dan jika engkau berlari mendekati barat, niscaya engkau akan menjauhi timur”. Orang-orang yang menginginkan kehidupan akhirat akan melakukan apapun yang diperintahkan Allah Ta'ala dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Salah satunya adalah menafkahkan hartanya untuk jalan Allah Ta'ala. Karena Allah Ta'ala menjanjikan bagi mereka ampunan dan syurga. Sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu, dia tidak mau menafkahkan hartanya untuk jalan Allah Ta'ala. Karena syetan membisik-bisikkan kemiskinan dan kemelaratan kepadanya, dan diapun mengikuti bisikan syetan tersebut. Sesuai Surat Al Baqarah (2) : 268 268. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. Agama Islam menjadi kuat jika ada tiga orang yang bersatu. yaitu orang kaya yang dermawan dengan hartanya, orang kuat yang dermawan dengan tenaganya dan orang berilmu yang dermawan dengan ilmunya, dan mereka melakukan semua itu semata-mata hanya untuk mengharapkan keridhoan Allah Ta'ala. Allah Ta'ala menurunkan agama adalah untuk membenahi akhlaq. Oleh sebab itu percuma saja ilmu agamanya banyak jika tidak diamalkannya didalam kehidupan sehari-hari. Makanya Rasulullah SAW adalah manusia yang paling baik akhlaqnya, sampai-sampai Allah Ta'ala sendiri yang memuji beliau. Sesuai surat Al Qalam (68) : 4 4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Pernah suatu ketika ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasul, aku punya tetangga yang tekun beribadah. Pada malam hari dia melakukan sholat-sholat malam, dan disiang harinya dia berpuasa. Akan tetapi tetangganya tidak aman dari lisannya. Ahli manakah dia? Apakah ahli syurga atau ahli neraka?” Rasulullah SAW menjawab : “dia ahli neraka”. Orang yang masuk syurga adalah orang yang memiliki ilmu agama dan menjalankan ilmunya tersebut, sehingga akhlaqnya menjadi baik (mulia) dan menjadikan dia takut kepada Allah Ta'ala. Bukan berarti orang-orang yang pandai agama dan pandai menasehati orang lain akan masuk syurga. Jika dia sendiri tidak mengamalkan ilmunya, maka dia akan masuk neraka. Orang seperti ini sama seperti lilin, yaitu bisa menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar. Oleh sebab itu wali ada dua macam, yaitu wali Allah Ta'ala dan wali syetan. Memang dilihat dari karomahnya, biasanya wali syetan lebih hebat, karena dibantu oleh para syetan. Akan tetapi lihatlah ketauhidan dan akhlaqnya. Wali Allah Ta'ala selalu mengajak manusia kepada Allah Ta'ala, mentauhidkan Allah Ta'ala, menyembah Allah Ta'ala dan bergantung hanya kepada Allah Ta'ala. Akan tetapi wali syetan selalu mengajak manusia kepada dirinya sendiri dan segala sesuatu selain Allah Ta'ala. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami tidak berharap kepada makhluq-makhluqMu. Karena hanya Engkaulah Dzat Yang Maha dibutuhkan bagi setiap hamba-hambaMu. F. Sikap Orang Bertawakkal Yang penting dia telah bergantung hanya kepada Allah Ta'ala didalam segala hal, setelah itu masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Sebetulnya yang dibutuhkan oleh Dia bukanlah kehidupan dunia, karena kehidupan dunia telah dijamin oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi yang sangat dibutuhkan adalah kehidupan akhirat, yaitu bagaimana dosanya diampuni, amalnya diterima dan dimasukkan kesyurga serta dihindarkan dari azab neraka. Akan tetapi bagi orang-orang fasik yang dibutuhkan kepada Allah Ta'ala hanyalah kesenangan duniawi, sedangkan untuk kehidupan akhirat tidak dia butuhkan. Sehingga dia rela masuk neraka asalkan kehidupan dunianya bahagia. G. Sikap Orang Mukhlis Dia tidak pernah merasa bangga (sombong) apabila bisa berbuat kebaikan. Dia tahu betul bahwa apapun yang dia lakukan itu adalah kebutuhannya sendiri terhadap Allah Ta'ala. Sedikitpun dia tidak merasa bahwa Allah Ta'ala butuh kepadanya. Dan apabila ada orang lain yang menyanjungnya, maka dia sangat malu. Karena apapun yang dapat dia lakukan adalah untuk kebutuhan dirinya sendiri. Begitupun juga apabila ada orang yang mengejeknya, dia terima dengan ikhlas. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ As Shomad Apabila telah menjadi kholifah, maka ia tidak pernah bergantung kepada siapapun kecuali hanya bergantung kepada Allah Ta’ala. Dan ia akan selalu bersyukur dengan kebaikan-kebaikan sekecil apapun yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Ia tidak pernah dekat kepada Allah Ta’ala diwaktu butuh saja, akan tetapi ia selalu dekat kepada Allah Ta’ala dalam kondisi apapun juga. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ As Shomad Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu dalam membimbing manusia agar mereka hanya bergantung kepada-Mu, bukan kepada makhluq-Mu. Agar mereka dapat mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada satupun yang berhak untuk digantungi kecuali hanya Engkau.